Pengembangan Produk Turunan Cocofiber untuk Meningkatkan Nilai Tambah dan Mengurangi Limbah
Artikel ini menjelaskan upaya mengatasi rendahnya harga jual cocofiber yang dihasilkan dalam jumlah besar, yang seringkali berujung pada praktik pembakaran. Melalui survei ke pelaku usaha dan kolaborasi dengan pengrajin lokal, dilakukan pengembangan produk turunan serta pelatihan bagi KWT Mama Ceria. Upaya ini menunjukkan bahwa pengolahan lanjutan cocofiber dapat meningkatkan nilai jual sekaligus mengurangi limbah.


Sehubungan dengan rendahnya harga jual cocofiber, serta tingginya volume produksi yang dihasilkan dalam setiap siklus, kami melakukan survei ke beberapa pelaku usaha pengolahan cocopeat dan cocofiber. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Bapak Novi Hendri, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Pariaman, setelah sebelumnya kami mendiskusikan inisiatif pengolahan sabut kelapa menjadi cocopeat dan cocofiber.
Kunjungan dilakukan ke dua unit usaha yang masing-masing mampu memproduksi sekitar 1 hingga 2 ton cocopeat dan cocofiber per hari. Pada saat itu, rendahnya harga cocofiber mendorong para pelaku usaha untuk membakar antara 500 kg hingga 1 ton cocofiber setiap harinya. Praktik ini tidak hanya menimbulkan polusi udara, tetapi juga berdampak pada kenyamanan dan kesehatan masyarakat sekitar. Berdasarkan wawancara dengan pemilik usaha, beberapa warga bahkan telah menyampaikan keluhan terkait asap tebal yang dihasilkan dari proses pembakaran tersebut.
Menanggapi kondisi ini, kami mulai mencari alternatif pemanfaatan cocofiber menjadi produk turunan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Kami kemudian mengidentifikasi sejumlah pengrajin lokal yang memanfaatkan cocofiber sebagai bahan utama. Dari proses ini, kami menemukan dua pelaku usaha, yaitu Melan Craft yang berbasis di Kota Pariaman (sekitar satu jam dari Kabupaten Padang Pariaman) dan Farilla Craft yang berbasis di Kota Padang (sekitar satu setengah jam perjalanan).
Melan Craft berfokus pada produksi kerajinan seperti pot bunga dan berbagai produk merchandise (buku agenda, dompet, dan sandal) yang memanfaatkan cocofiber sebagai salah satu bahan utama. Sementara itu, Farilla Craft memiliki keunggulan pada pembuatan lukisan berbahan cocofiber dan ijuk, serta produk lain seperti pot, tas, dan agenda. Berdasarkan pertimbangan kebutuhan dan kesesuaian produk, kami memutuskan untuk bekerja sama dengan Melan Craft dalam mengembangkan produk berupa pot dan tali berbahan cocofiber.
Pelatihan pengolahan produk turunan ini dilaksanakan selama dua hari, melibatkan perwakilan perangkat desa, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Padang Pariaman, serta 15 anggota KWT Mama Ceria. Melalui pelatihan ini, para anggota kelompok mulai memahami bahwa meskipun cocofiber sulit dijual dalam bentuk mentah, pengolahan lebih lanjut dapat meningkatkan nilai jualnya secara signifikan.
Sebagai ilustrasi, pot gantung berukuran kecil dapat dijual dengan harga sekitar Rp7.000 per buah, sementara pot berbentuk bundar berukuran kecil dapat mencapai Rp10.000 per buah. Dengan kapasitas produksi sekitar 10–15 pot dari setiap 1 kg cocofiber, nilai ekonomi yang dihasilkan jauh lebih tinggi dibandingkan harga cocofiber mentah yang hanya sekitar Rp2.500 per kg. Hal ini menunjukkan potensi nyata dari pengembangan produk turunan dalam meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
